“ Habibie & Ainun “
Film yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga
Citra Lestari ini menceritakan mengenai perjalanan hidup seseorang yang
sangat besar pengaruhnya di negara kita sendiri maupun di negara-negara
lain,beliau yaitu Pak Habibie dan sekaligus juga menceritakan kisah cintanya
beliau dengan istri tercintanya yaitu Ibu Ainun.
Kisah awal dimulai ketika
Habibie dan Ainun masih remaja, mereka memang bersekolah ditempat yang sama , Habibie dan Ainun memang tergolong murid
yang cerdas di sekolah tersebut . Gurunya kala itu sempat
bergurau dengan mengatakan kalau sebenarnya mereka berjodoh tapi Habibie
menyangkalnya, ia malah mengatakan kalau Ainun itu hitam, jelek, gendut,
seperti gula jawa.
Lulus dari sekolah tersebut , Habibie melanjutkan pendidikannya ke Jerman . Tahun
demi tahun pun berlalu , 1959, di Aachen Jerman,terlihat habibie yang
akan menyelesaikan tugas akhir diplomanya di institut konstruksi ringan sedang
menggambar sesuatu di papan tulis hingga ia merasakan sakit lalu jatuh pingsan,
setelah di periksa ternyata ia menderita penyakit Tubercolosis . Habibie yang berkuliah di Jerman
terpaksa harus pulang ke Indonesia karena penyakit Tubercolosis yang
dideritanya . Tapi dari situlah cerita cinta Habibie & Ainun
berlanjut. Habibie akhirnya dipertemukan kembali dengan Ainun disaat Habibie
diutus oleh ibunya untuk mengantar kue ke rumah Ainun yang bertempat tinggal di
Ranggamalela , Bandung . Habibie terkejut saat ia melihat Ainun yang telah
tumbuh menjadi gadis cantik dan berkulit putih. Sontak ia berkata , “Rupanya gula jawa telah berubah menjadi gula
pasir”.
Ainun yang telah berubah
menjadi gadis muda nan cantik pun, membuat Habibie jatuh hati . Karena kecantikannya
banyak pria yang menaruh hati padanya. Dan kebanyakan pria yang menyukainya
adalah pria yang berpangkat dan kaya, tapi semua itu tidak membuat minder . Dengan santainya ia
datang ke rumah Ainun dengan menggunakan becak sedangkan para ‘pesaingnya’ itu
kebanyakan menggunakan mobil di saat berkunjung ke rumah
Ainun .
Setelah pertemuan tersebut, mereka pun merajut
cinta. Dan Habibie pun melamar Ainun menjadi istrinya . “saya tidak bisa berjanji akan menjadi istri
yang sempurna untukmu. tapi saya akan selalu mendampingimu”. Itu adalah janji ainun ketika ia di lamar
habibie saat di dalam becak. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman pada tahun
1963 dan tinggal di preussweg. Ainun pun menerima lamaran Habibie. Mereka
menikah lalu memulai membina keluarga di Jerman . Habibie dan Ainun hidup dalam
kesederhanaan di Jerman. Disana Habibie
menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke Indonesia untuk bisa
membuat sebuah pesawat anak bangsa seperti janji yang pernah diucapkan olehnya
ketika sakit.
‘Dinegeri orang dipuji,
dinegeri sendiri dicaci.’ Mungkin itu kalimat tepat yang menggambarkan kondisi
Habibie saat itu. Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati
dinegerinya sendiri. Habibie yang mengajukan surat kepada pemerintah
Republik Indonesia yang bertujuan untuk permohonan merancang sebuah pesawat
untuk negerinya sendiri tidak berjalan lancar , permohonan itu tidak di setujui
oleh Pemerintah Republik Indonesia . Mimpi Habibie untuk bisa
membangun tanah air tempat ia dilahirkan, mengalami hambatan. Dengan terpaksa
ia menerima semua itu dengan lapang dada dan bekerja di Industri Kereta Api di
Jerman .
Di industri tersebut kemampuan Habibie mulai di
uji , ia berusaha menciptakan konstruksi ringan sesuai dengan kebutuhan kereta
api modern, dan ia di beri kesempatan untuk mencoba penemuannya,lalu ketika
Habibie sama sekali tidak memiliki uang untuk pulang kerumahnya, dan harus
berjalan ditengah badai salju dengan sepatu yang bolong sampai harus ditambal
dengan kertas agar ia bisa berjalan kembali. Ainun yang melihat kaki Habibie
yang terluka ketika sampai rumah, tak tega dan meminta Habibie untuk
memulangkannya ke Indonesia agar meringankan beban Habibie selama di Jerman.
di industri tersebut Habibie merancang kereta
yang harus kuat menahan beban tekanan sebesar 200 ton dan Habibie pun sanggup
melakukan itu semua . Keadaan ekonomi keluarga mereka berubah saat
Habibie berhasil menemukan sebuah rancangan kereta api pengangkut beban yang
baru. Keluarga mereka juga diramaikan dengan kehadiran dua orang putra, Ilham
Akbar dan Thareq Kemal .
Sampai akhirnya, Habibie
memiliki kesempatan untuk bisa mewujudkan mimpinya. Ia di beri kesempatan untuk
membuat pesawat terbang dinegerinya sendiri. Setelah menjadi wakil dirut IPTN,
kemudian ia diangkat menjadi menteri, kemudian menjadi wakil presiden dan
akhirnya menjadi presiden menggantikan Soeharto yang lengser dari jabatannya.
Setiap kesuksesan pasti
ada pengorbanan. Kesuksesan Habibie yang ingin mengabdikan diri pada negara,
berdampak pada keluarganya. Ia tak lagi sempat menghabiskan waktu dengan
keluarganya, bahkan untuk dirinya sendiri pun tidak. Tidur pun hanya 1 jam
setiap harinya.
Ketika Habibie tak
mencalonkan diri sebagai presiden di pemilu berikutnya, ia pun kembali ke
Jerman bersama dengan Ainun. Disana mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi
ketenangan dan kedamaian itu tak bertahan lama. Ainun yang divonis menderita
kanker ovarium stadium 4, memaksanya harus dirawat di rumah sakit dan
menjalankan operasi berkali-kali. Ainun yang sedang sakit parah tapi sempat
menuliskan daftar obat yang harus diminum oleh Habibie, karena selama ini
dialah yang menyiapkan obat untuknya. Selama sakit, Habibie dengan setia
merawat Ainun dan menjaganya sampai Ainun menutup mata untuk selama-lamanya.