Kamis, 16 Januari 2014

“ Habibie & Ainun “
Film yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari  ini menceritakan mengenai perjalanan hidup seseorang yang sangat besar pengaruhnya di negara kita sendiri maupun di negara-negara lain,beliau yaitu Pak Habibie dan sekaligus juga menceritakan kisah cintanya beliau dengan istri tercintanya yaitu Ibu Ainun.
Kisah awal dimulai ketika Habibie dan Ainun masih remaja, mereka memang bersekolah ditempat yang sama , Habibie dan Ainun memang tergolong murid yang cerdas di sekolah tersebut . Gurunya kala itu sempat bergurau dengan mengatakan kalau sebenarnya mereka berjodoh tapi Habibie menyangkalnya, ia malah mengatakan kalau Ainun itu hitam, jelek, gendut, seperti gula jawa.         
Lulus dari sekolah tersebut , Habibie melanjutkan pendidikannya ke Jerman . Tahun demi tahun pun berlalu , 1959, di Aachen Jerman,terlihat habibie yang akan menyelesaikan tugas akhir diplomanya di institut konstruksi ringan sedang menggambar sesuatu di papan tulis hingga ia merasakan sakit lalu jatuh pingsan, setelah di periksa ternyata ia menderita penyakit Tubercolosis . Habibie yang berkuliah di Jerman terpaksa harus pulang ke Indonesia karena penyakit Tubercolosis yang dideritanya . Tapi dari situlah cerita cinta Habibie & Ainun berlanjut. Habibie akhirnya dipertemukan kembali dengan Ainun disaat Habibie diutus oleh ibunya untuk mengantar kue ke rumah Ainun yang bertempat tinggal di Ranggamalela , Bandung . Habibie terkejut saat ia melihat Ainun yang telah tumbuh menjadi gadis cantik dan berkulit putih. Sontak ia berkata , “Rupanya gula jawa telah berubah menjadi gula pasir”.
Ainun yang telah berubah menjadi gadis muda nan cantik pun, membuat Habibie jatuh hati . Karena kecantikannya banyak pria yang menaruh hati padanya. Dan kebanyakan pria yang menyukainya adalah pria yang berpangkat dan kaya, tapi semua itu tidak membuat minder . Dengan santainya ia datang ke rumah Ainun dengan menggunakan becak sedangkan para ‘pesaingnya’ itu kebanyakan menggunakan mobil di saat berkunjung ke rumah Ainun .
Setelah pertemuan tersebut, mereka pun merajut cinta. Dan Habibie pun melamar Ainun menjadi istrinya . “saya tidak bisa berjanji akan menjadi istri yang sempurna untukmu. tapi saya akan selalu mendampingimu”. Itu adalah janji ainun ketika ia di lamar habibie saat di dalam becak. Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman pada tahun 1963 dan tinggal di preussweg. Ainun pun menerima lamaran Habibie. Mereka menikah lalu memulai membina keluarga di Jerman . Habibie dan Ainun hidup dalam kesederhanaan di Jerman. Disana Habibie menyelesaikan studi S3-nya dan berharap bisa kembali ke Indonesia untuk bisa membuat sebuah pesawat anak bangsa seperti janji yang pernah diucapkan olehnya ketika sakit.
‘Dinegeri orang dipuji, dinegeri sendiri dicaci.’ Mungkin itu kalimat tepat yang menggambarkan kondisi Habibie saat itu. Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati dinegerinya sendiri. Habibie yang mengajukan surat kepada pemerintah Republik Indonesia yang bertujuan untuk permohonan merancang sebuah pesawat untuk negerinya sendiri tidak berjalan lancar , permohonan itu tidak di setujui oleh Pemerintah Republik Indonesia . Mimpi Habibie untuk bisa membangun tanah air tempat ia dilahirkan, mengalami hambatan. Dengan terpaksa ia menerima semua itu dengan lapang dada dan bekerja di Industri Kereta Api di Jerman .
Di industri tersebut kemampuan Habibie mulai di uji , ia berusaha menciptakan konstruksi ringan sesuai dengan kebutuhan kereta api modern, dan ia di beri kesempatan untuk mencoba penemuannya,lalu ketika Habibie sama sekali tidak memiliki uang untuk pulang kerumahnya, dan harus berjalan ditengah badai salju dengan sepatu yang bolong sampai harus ditambal dengan kertas agar ia bisa berjalan kembali. Ainun yang melihat kaki Habibie yang terluka ketika sampai rumah, tak tega dan meminta Habibie untuk memulangkannya ke Indonesia agar meringankan beban Habibie selama di Jerman.
di industri tersebut Habibie merancang kereta yang harus kuat menahan beban tekanan sebesar 200 ton dan Habibie pun sanggup melakukan itu semua . Keadaan ekonomi keluarga mereka berubah saat Habibie berhasil menemukan sebuah rancangan kereta api pengangkut beban yang baru. Keluarga mereka juga diramaikan dengan kehadiran dua orang putra, Ilham Akbar dan Thareq Kemal .
Sampai akhirnya, Habibie memiliki kesempatan untuk bisa mewujudkan mimpinya. Ia di beri kesempatan untuk membuat pesawat terbang dinegerinya sendiri. Setelah menjadi wakil dirut IPTN, kemudian ia diangkat menjadi menteri, kemudian menjadi wakil presiden dan akhirnya menjadi presiden menggantikan Soeharto yang lengser dari jabatannya.
Setiap kesuksesan pasti ada pengorbanan. Kesuksesan Habibie yang ingin mengabdikan diri pada negara, berdampak pada keluarganya. Ia tak lagi sempat menghabiskan waktu dengan keluarganya, bahkan untuk dirinya sendiri pun tidak. Tidur pun hanya 1 jam setiap harinya.
Ketika Habibie tak mencalonkan diri sebagai presiden di pemilu berikutnya, ia pun kembali ke Jerman bersama dengan Ainun. Disana mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi ketenangan dan kedamaian itu tak bertahan lama. Ainun yang divonis menderita kanker ovarium stadium 4, memaksanya harus dirawat di rumah sakit dan menjalankan operasi berkali-kali. Ainun yang sedang sakit parah tapi sempat menuliskan daftar obat yang harus diminum oleh Habibie, karena selama ini dialah yang menyiapkan obat untuknya. Selama sakit, Habibie dengan setia merawat Ainun dan menjaganya sampai Ainun menutup mata untuk selama-lamanya.